Pemanasan Global, Tragedi dunia Modern

9 10 2007

<!–

–>Pada tanggal 5 Juni 2007, negara-negara seluruh dunia umumnya memperingatnya sebagai Hari Lingkungan Hidup. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multipihak. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.

Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya.

Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur
bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi.

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Jatim terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan Mei 2007 kemarin. Mulai dari Pantai Kenjeran, Pantai Popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau di Indonesia.

Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 meter pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal.

Lantas dengan situasi sedemikian rupa apa yang dibutuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? Yang dibutuhkan adalah REVOLUSI GAYA HIDUP, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan.

Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim. Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi Protokol Kyoto yang menekankan kewajiban pada negara-negara Utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara Selatan.

Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja.

Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.

Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan?

Ini semua adalah cerminan bagi mereka yang berusaha dan sadar sepenuh hati demi keberlanjutan kehidupan sosial (sustainable society) yang berkeadilan secara sosial, budaya, ekologis dan ekonomi. Inilah tindakan nyata untuk meraih kedaulatan energi dan melepaskan ketergantungan terhadap energi fosil yang sekarang telah dikuasai oleh korporasi modal. Sekarang siapapun bisa memilih, mau jadi kontributor pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim dan suhu yang makin panas? Atau mau menjadi bagian dari pelaku ”penyejukan global” dengan mengubah pola konsumsi dan gaya hidup dari sekarang juga? Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama.(dikutip dari stapala.com)

Kontak:
Ridho Saiful Ashadi, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jatim (08155093589/ 03171116367)
Yuliani, Kadiv. Informasi, Kampanye Dan Database Eksekutif Daerah Walhi Jatim (085648027407)

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Ridho Saiful Ashadi
Direktur Eksekutif WALHI Jawa Timur
Email Ridho Saiful Ashadi
Telepon kantor: +62-031-501 4092
Mobile:
Fax: +62-031-505 4313





Ayo Lestarikan Badak Jawa!!!!

9 10 2007

RhinoCare, program konservasi Badak Jawa (Rhinoceros sundaicus) WWF-Indonesia diperkenalkan kepada publik untuk pertama kali (soft launch) pada acara buka puasa bersama, Kamis 20 September di Jakarta. Program RhinoCare mengajak masyarakat, baik individu dan kelompok untuk terlibat aktif dalam konservasi Badak Jawa, dengan mengadopsinya secara simbolis.

“Sudah empat puluh tahun WWF bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon. Program RhinoCare merupakan salah satu strategi untuk terus meningkatkan upaya konservasi di Ujung Kulon melalui pendanaan yang berkelanjutan atau sustainable financing,” papar Adhi Rachmat Hariyadi, Site Manager WWF-Indonesia proyek Ujung Kulon.

Program RhinoCare, yang bertujuan mendekatkan masyarakat lagsung dengan upaya konservasi badak jawa di ujung kulon ini memperkenalkan tujuh badak untuk diadopsi yaitu: Dablo, Euis, Jampang, Lulu dan Rara, Menul, dan Macho. Tiap orang atau kelompok akan mendapatkan sertifikat dan paket adopsi sebagai tanda keikutsertaan mereka untuk melestarikan badak jawa.

Ketujuh badak tersebut memiliki sifat yang bersahabat dan ramah. Karakter unik dan lucu ketujuh badak ini dapat juga ditemukan dalam berbagai produk, seperti kaos, stiker dan boneka. Membeli produk-produk RhinoCare merupakan salah satu cara untuk mendukung pelestariannya

Dukungan Masyarakat
Dana yang dihimpun dari Program RhinoCare akan digunakan untuk menjalankan kegiatan patroli dan pemantauan Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.”Adopsinya hanya bersifat simbolis, bukan berarti badaknya dipindahkan dari Taman Nasional,” kata Hariyadi.

Keterlibatan langsung masyarakat, baik orang per orang mau pun kelompok dalam upaya penyelamatan Bada Jawa, difasilitasi dalam tawaran berbagai paket adopsi yang terdiri dari paket adopsi basic, advanced, family, silver, gold dan platinum.

“Jadi misalnya ada kelompok anak sekolah A ingin mengambil paket adopsi manapun, mereka bisa saja mengumpulkan uangnya bersama-sama. Pada dasarnya pakat-paket ini dapat dipilih oleh siapa saja,” tambahnya.

Selain paket adopsi, Program RhinoCare juga merancang paket Name-A-Rhino. Dengan paket ini masyarakat berkesempatan untuk memberi nama badak hasil jepretan kamera, baik itu badak anak atau dewasa. Program direncanakan akan mulai bergulir tahun 2008. Sementara untuk paket wisata, mengamati badak secara langsung di habitatnya sedang dalam proses uji coba.

Si Pemalu yang terancam
Masalah yang dihadapi Badak Jawa saat ini adalah populasi yang stagnan, meski pun kegiatan perburuan sudah berhentu. Ditambah lagi ancaman dari ekosistem sekitar, seperti ketersediaan pakan yang menipis dan kompetisi ruang dengan dengan banteng.

“Perubahan iklim baik lokal, seperti yang terjadi saat letusan Gunung Tambora pada 1815, dan Krakatau, pada 1883 serta perubahan iklim global juga merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup Badak Jawa,” jelas Hariyadi.

Maka, program RhinoCare diluncurkan oleh WWF-Indonesia, sebagai program konservasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Semoga saja Lulu dan Rara, Euis, Jampang, Macho, Menul, dan Dablo banyak mendapatkan “keluarga” yang bersama-sama menjaga keberlangsungan hidup mereka.(dikutip dari wwf.or.id