PAK DIS JIKA KAU CALONKAN DIRI 2014..tanpa kau minta aku siap jadi tim suksesmu

7 03 2012

DAYAKINDO 29/10/11 dari alfaqirilmiRabu, 26 Oktober 2011 09:14 LAMAN MEDIA : POLITIKANA
Dua Jam Bersama Pak Dahlan Setelah jadi Menteri BUMN
Oleh Hazairin Sitepu

“Ok.” Hanya dua huruf ini yang tertulis di monitor handphone saya. Pesan ini datang dari Dahlan Iskan, menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai balasan atas short message system (SMS) saya. Saya kemarin pagi mengirim SMS kepada Pak Dahlan untuk meminta waktu bertemu Beliau, ingin menyampaikan selamat atas dilantiknya menjadi menteri BUMN. Padahal usai dilantik pada 20 Oktober lalu, waktu saya masih di Eropa, sudah menyampaikan ucapan selamat melalui SMS dan Pak Dahlan sudah membalas dengan menyatakan terima kasih dan permohonan maaf. “Maafkan aku Hazairin, SMS-mu baru saya balas karena ada ribuan SMS yang masuk ke handphone saya,” tulisnya. Tapi rasanya kurang afdhal kalau tidak bertemu sambil menjabat tangannya.

Saya lalu ke kantor menteri BUMN di Jl. Merdeka Barat, bekas kantor PT Garuda Indonesia. Naik ke lantai 19 karena ruang kerja menteri di lantai tersebut. Pak Dahlan ternyata sedang bertemu Pak Yacob Oetama dan pimpinan Harian Kompas di Palmerah dan saya harus menunggu. “Maaf, Bapak menunggu di bawah saja. Di lobi. Biar aman di sini,” katapetugas security di lantai 19 kepada saya. “Gak apa-apa Mas, saya aman kok,” kata saya. Tampang saya mungkin mencurigakan, karena selama saya duduk di ruang tunggu petugas ber-handy talky ini tampak sering mondar-mandir dan tiga kali mengintip dari celah dinding kaca. Sekitar 15 menit di ruang tunggu, Pak Dahlan menelepon dan meminta saya menuju ke Kuningan, karena Beliau akan bersilaturahmi dengan seorang tokoh di sebuah tempat di situ. “Nanti kita ketemu di sana aja,” katanya. Saya lalu menuju ke Kuningan. Hazairin, Anda sudah di mana? Belok kanan saja lalu ambil jalur lambat, tunggu saya di depan Wisma Bakri, katanya saat itu. Pak Dahlan menelepon lagi ketika saya sudah di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hampir bersamaan dengan saya menutup telepon, melintas di jalur cepat rombongan pejabat dengan pengawalan dua sepeda motor Patwal di depan berikut satu mobil Patwal lagi dan di belakang ada satu lagi mobil Patwal. Saya bilang sama sopir saya: “Itu rombongan menteri BUMN sudah lewat.” Tiba-tiba Pak Dahlan menelepon: “Saya sudah di belakang Anda, stop aja di situ,” katanya. Sopir saya berhenti beberapa meter sebelum depan Wisma Bakri, dan dalam waktu hampir bersamaan mobil Toyota Land Cruiser berhenti sekitar 10 meter di belakang mobil saya. Melalui kaca monitor saya melihat pria berbaju biru lengan panjang turun dan berjalan cepat ke arah mobil saya. “Itu Pak Dahlan,” kata saya lalu turun menyambut menteri BUMN itu. Pak Dahlan kemudian masuk ke mobil saya, duduk di jok depan. “Ayo jalan,” katanya kepada sopir saya yang masih bingung melihat tingkah Pak Menteri. “Biasanya yang duduk di depan itu ajudan,” kata saya dalam hati.

“Kita ke kantor saja ya, nanti Dirut Pertamina mau ketemu. Terus jam tiga saya ada pertemuan dengan menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) ,” kata Pak Dahlan.

Saya membayangkan 15 tahunan yang lalu ketika Pak Dahlan ke Makassar untuk suatu rapat di Harian Fajar (grup Jawa Pos). Waktu itu Pak Dahlan meminta saya yang menjemput Beliau ke bandara. “Pakai mobil Anda saja,” kata Pak Dahlan waktu itu. Padahal mobil dinas direksi jauh lebih bagus dibanding mobil dinas saya yang wakil pemimpin redaksi. Begitu pula waktu ke bandara, harus saya juga yang antar menggunakan mobil yang kurang bagus itu. Teringat pula waktu di Bogor 11 tahun lalu, saya mengantar Beliau ke Jakarta dengan mobil Mazda Vantren, padahal pada tahun itu sehari-hari Pak Dahlan naik Mercedes dan Jaguar. Dalam perjalanan Kuningan-Merdeka Barat saya menanyakan kebenaran beberapa pernyataannya yang disiarkan berbagai media, terutama soal meminta direksi BUMN harus berani menolak intervensi partai politik. “Itu benar. Asli. Harus begitu,” katanya.

“Ayo masuk. Ambil kanan. “Ayo masuk. Ambil kanan. Masak kamu kalah sama mobil itu,” kata Pak Dahlan kepada sopir saya, yang memberikan kesempatan kepada mobil yang datang dari simpang kanan untuk mendahului. “Dia gugup Pak, ada menteri di sampingnya,” timpal saya. “Ah…sama saja,” kata Pak Dahlan lagi.

Tiba di lantai 19 saya ke ruang kerjanya. “Besar bangat Pak. Ini kalau di kantor saya sudah beberapa ruangan,” kata saya mengomentari ruang kerja yang sangat luas dan tampak mewah itu. “Iya, saya belum duduk di kursi itu. Saya di sini saja,” katanya yang lalu duduk di kursi ruang rapat yang menyatu dengan ruang kerja. Maksudnya, selama menjadi menteri Beliau belum pernah duduk di kursi kerja menteri yang mewah itu.

Waktu menjadi Dirut PLN dan CEO Jawa Pos Group Pak Dahlan memang tidak menempati ruang kerja Dirut yang juga luas. Mula-mula dia menempati ruang rapat Dirut, kemudian pindah ke satu ruangan yang jauh lebih kecil dari ruang kerja Dirut. Lagi-lagi ruangan itu juga tidak dia gunakan sepenuhnya kecuali meja rapat Dirut sebagai tempat kerjanya sehari-hari. Sambil menunggu datangnya Dirut Pertamina, Pak Dahlan makan siang. Dia mengambil sendiri, menyajikan sendiri dan piring bekas makannya dia bawa sendiri ke ruang sekretariat Dirut. Rupanya ada bekal yang sudah disiapkan Bu Dahlan, istrinya, dari rumah yang disimpannya di belakang kursi kerja Dirut. Selain nasi putih, ada ayam dan ikan yang digulai, kemudian sayur berwarna hijau.

Setelah makan siang, kira-kira pukul 14:20, Pak Dahlan menandatangani sejumlah surat, lalu mengantar sendiri surat-surat yang sudah dia tandatangani itu ke ruang sekretariat. “Sekarang sudah setengah tiga, Dirut Pertamina belum datang” Batalin aja, nanti diatur lagi. Saya mau ketemu menteri ESDM jam tiga,” kata Pak Dahlan. Kami lalu turun ke lobi untuk persiapan ke Kementerian ESDM. Begitu melihat menterinya di lobi, beberapa staf dan petugas security mendadak sibuk. “Ayo kita jalan kaki saja,” kata Pak Menteri. “Jangan Pak, sebaiknya Bapak naik mobil,” kata saya sambil menelepon sopir. “Ah..cuman dekat kan. Macet lho,” jawab Pak Menteri lagi sambil terus berjalan ke luar halaman kantor.

Pak Dahlan, saya dan seorang staf beliau lalu berjalan ke Kementerian ESDM yang jaraknya sekitar 300 meter dari kantor Kementerian BUMN. Rupanya protokol kedua kementerian sudah berkoordinasi sebelum kami tiba. Begitu di depan pintu lobi, protokol ESDM sudah menyambut. Pak Dahlan pun diantar ke ruang tunggu tamu menteri karena kemungkinan menteri ESDM lagi ada tamu dan menteri BUMN sangat disiplin, datang tepat waktu. Pak Dahlan terpaksa harus menunggu di ruang tunggu bersama-sama tamu lainnya yang bukan menteri. Petugas security Kementerian ESDM hanya bisa geleng kepala. “Gak ada menteri seperti ini,” kata seorang dari mereka. “Pak Dahlan… Pak Dahlan. Sikapnya tidak berubah. Masih seperti dulu-dulu. Asli,” kata saya.

Mobil Land Cruiser yang tadi itu ternyata milik pribadi. Dia memang tidak mau menggunakan mobil dinas menteri, apalagi harus dikawal. Pak Dahlan memang memiliki beberapa mobil mewah. Sebelum menjadi Dirut PLN, dia memimpin kurang-lebih 200 perusahaan. Perusahaan-perusahaan BUMN yang dia pimpin sekarang jumlahnya 141 buah.

Pejabat-pejabat Kementerian BUMN atau para direksi BUMN akan merasakan yang namanya rapat subuh, rapat tengah malam, rapat di bandara, rapat dalam perjalanan, di atas mobil, dll, makan di pinggir jalan, dll.

Pak Dahlan adalah figur yang sangat berkarakter. Dan karakter seorang Pak Dahlan sudah pasti akan memberi warna terhadap penampilan BUMN di masa akan datang, baiksecara corporasi maupun profesionalitas pengurus BUMN itu sendiri. Inilah pengalaman saya selama dua jam bersama Pak Dahlan setelah menjadi menteri BUMN. (*)

Iklan




Ekonom Semprul

7 03 2012

met pagi miliser semua..
entah apa yang membuat gw semangat menulis di pagi ini (karena biasanya paling males menulis)..mungkin yang tepat karena shock kali ya..yup bener shock yang gembira. pagi ini gw kaget aja.,maklum sebagai PNS tanggal muda terima gaji..tapi ambles dalam sedetik bayar cicilan dan tagihan..heehhe benerlah istilah tiap tanggal lima bahwa kondisi keuangan udah koma (heehe gak semua ya mybe saya saja nih).
kantor gw kalo gaji masuk rekening B*I sedangkan TKPKN Man*i*i..tulisan gw pagi ini karena didasari kebijakan berbeda dari dua bank ini. gw tadi pagi di BRI ada saldo 133.000. sedangkan atm B*I deket rumah pecahannya cuman 100.00..waduh piye iki sedangkan kantong dah tipis.akhirnya nekat gw tarik aja cepek.eeh gak taunya berhasil..seneng gw bukan kepalang..karena di bank Man*i*i cepek adalah saldo minimal yang harus ada. timbul pikiran iseng gw selama naik motor ke kantor. gila ni bank..ngaku aset terbesar tapi zolimnya besar juga. bayangin satu nasabah nahan cepek jika ada 100.000 nasabah aja berapa miliar uang dia kumpulin dan bisa diputar ke kredit. gw cuman dapat bunga paling 2% atau gak lebih dari 1000 tip bulan. tapi dia salurin ke nasabah bunga kreditnya paling rendah mybe 9% sampai 13%. gila ini udah gak bener..ini bentuk penjajahan baru (meski secara aturan BI di bolehin gak ya?). yang nikmatin hasil keringatnya ya cuman pihak yang naruh deposito dengan bunga 7% (14 bank) atau lebih..dan pihak bank (karyawan dan pemegang saham). bagi gw uang cepek tuh cukup gede. coba uang cepek gw beliin beras..kalo bini gw biasa beli yang cap topi Ko*i itu dah dapat sepuluh Kg..bisa untuk hampir sebulan. tapi direnggut begitu aja ama tuh bank. kalo gak bisa narik karena atm dah gak ada pecahannya lagi sih gak papa..ini pecahan 50.000 ama 100.000 masih bejibun. wak kembali terbersit di pikiran gw..zolim dasar penjajah, kenapa ya TKPKN gak di bank B*i semua aja. akan ngaruh gede buat gw.maklum gerakan ayo ke bank mungkin sepi peminat kali jika begini terus. lha cepek buat tukang sayur, tukang minyak apalagi tukang bajaj..bukan uang kecil (gw aja ngerasa gede bgt).
akhirnya seiring roda motor gw yang terus melaju..masih nyampe semanggi..tapi pikiran usil ini berpindah lagi..wah gila ni bunga kredit sekarang rata-rata 9% ampe 13%..bunga tabungan gw cuman 2%..wah bunga tinggi ini yang nikmatin yang cuman pemilik uang banyak dalam bentuk deposito, bank dan pemegang sahamnya. jadi ingat pelajaran pas UPKP kemarin. jika suku bunga termasuk instrumen moneter. wah coba diturunin kayak di amrik sono yang bunga tabungan dan deposito hampir 0%..berarti suku bunga kredit akan turun nih. jika menilik ekonomi kita tumbuh karena konsumsi dalam negeri ini akan sangat positif sekali (gak tahu kenapa ya bangsa kita ini konsumtif sekali termasuk gw bela-belain kredit buat beli gadget misalnya atau mobil baru), berarti harga barang akan turun karena cost produksi yang salah satunya bunga kredit turun (wak ekonomi tinggi bukan krena pungli aja tapi kredit kita juga mahal). artinya harga penjualan barang pun akan turun. contoh jika bank ngasih pinjaman modal kerja buat indofood selama ini bunganya 9%..turun jadi 2% wah harga indomie akan turun, buat anak kost ini berkah.jika biasanya di warung bubur indomie 5000 pake telor jadi cuman 2000. sisanya saving buat jalan-jalan atau beli gadget (hehehe gadget lagi). atau kredit investasi perusahaan sawit dari bunga 13% turun jadi 5% jadinya harga jual cpo akan turun ujung2nya harga minyak goreng gak 9000 lagi.mybe 5000. mak gw akan seneng nih.
kesimpulannya harga barang-barang akan turun, masyarakat akan ada saving yang notabene bisa untuk konsumsi produk-produk lain atau ditabung (kembali ke bank juga). jika konsumsi barang naik maka produsen akan ekspansi yang ujung-ujungnya menyerap pengangguran.akhirnya balik lagi konsumsi naik (ekonomi akan tumbuh terus toh yakin gw indonesia bisa tembus double digit nih). pemerintah juga untung nih. karena masyarakat dah ada saving yah kurangi aja subsidi sedikit-demi sedikit. misal BBM aka bensin jadi 6000. saving dari subsidi kan bisa buat pembangunan infrastruktur (kalo gw presidennya gw beli alutsista yang banyak biar tetanga kita gak resek lagi). selain itu dengan tingkat suku bunga yang rendah pemerintah kan akan menerbitkan sun dengan bunga rendah juga.ujung2nya saving lagi. pemerintah bisa ekspansi lagi.
akhirnya nyampe kantor pikiran gw ditutup dengan pemikiran…kenapa hal ini gak dilakukan?? apa karena pemegang wealth indonesia yang 5% jumlahnya gak rela ya?? apalagi mereka rata-rata punya beking politik yang kuat. toh kebijakan ini akan memeratakan pendapatan rakyat kan?? yang ujung-ujungnya maslahatnya lebih dinikmati oleh manusia indonesia yang jumlahnya 240.000.000 itu daripada orang kaya yang jumlahnya cuman seiprit itu. gw yakin jika sektor riil bergerak kencang..arus modal tetap akan masuk ke indonesia walau suku bunga turun..bayangin cing negara yang kaya raya siapa yang gak mau usaha..hasil laut masih melimpah gak dieksplor..belum SDA dan jumlah rakyatnya yang masuk 10 besar dunia ditambah sifatnya yang konsumtif siapa yang gak tergiur..

akhirnya mbohlah..pemerintah atau siapapun ini bener2 mihak wong cilik gak ya? atau kita masih dijajah atau otak gw yang masih cetek kali ya gak paham ekonomi yang mumet bin njelimet ini.
(tulisan ini sekedar iseng buat sharing saja..maaf jika ada yang gak berkenan.)





Sudahkah dilakukan?

7 01 2008

aM i gREEN????

bERI tANDA V pADA hAL2 yANG sUDAH KAMU lAKUKAN sETIAP hARINYA!

__ sAYA mEMATIKAN LAMPU sAAT tIDAK dIGUNAKAN n mENGGUNAKAN bOHLAM hEMAT eNERGI

__ sAYA mEMATIKAN pERLENGKAPAN eLEKTRONIK sAAT tIDAK dIGUNAKAN, sEPERTI tV, rADIO, kOMPUTER n yANG lAINNYA

__ sAYA mENGGUNAKAN bATERAI rE-cHARGEABLE

__ sAYA mENGGUNAKAN kIPAS aNGIN n bUKAN aC

__ sAYA tIDAK mENGGUNAKAN aIR pANAS sAAT mANDI

__ sAYA bERUSAHA uNTUK mENGGUNAKAN pRODUK dAUR uLANG

__ sAYA bERUSAHA uTK mENGURANGI pENGGUNAAN mOBIL pRIBADI (sAYA nAIK sEPEDA, mOTOR oR kENDARAAN uMUM sEBISA mUNGKIN)

__ sAYA mEMAKAI jEANS 2-3X sEBELUM mENCUCINYA

__ sAYA mENGGUNAKAN tOILET dUAL-fLUSH dI kAMAR mANDI sAYA

__ sAYA mENYUMBANGKAN pAKAIAN bEKAS sAYA kE oRANG yANG kURANG mAMPU

__ sAYA mENGHINDARI mEMBELI pRODUK yANG hANYA dIPAKAI sEKALI lALU dIbUANG

__ sAYA mENGHINDARI mEMBELI pRODUK mAKANAN/mINUMAN yANG kEMASANNYA sEKALI pAKAI

__ sAYA mEMAHAMI iSU lINGKUNGAN hIDUP n mEMBAHASNYA dGN tEMEN2

__ sAYA mJD sUKARELAWAN oR mEMBERI sUMBANGAN pADA oRGANISASI lINGKUNGAN hIDUP

__ sAYA MENONTON fILM “aN iNCONVENIENT tRUTH n tHE 11TH hOUR’ bERSAMA kELUARGA sAYA

__ sAYA n kELUARGA lEBIH mEMILIH uNTUK mASAK dI rUMAH dARIPADA mEMESAN dELIVERY

__ sAYA tDK mENGGUNAKAN pRODUK aPAPUN dARI kULIT/bULU hEWAN

__ sAYA mEMBAWA tERMOS/gELAS kOPI sENDIRI sAAT mEMBELI fRAPPUCINO kESAYANGAN dI cOFFEE sHOP

__ sAYA mEMBAWA kANTONG bELANJA sENDIRI sAAT bERBELANJA dI sUPERMARKET

__ sAYA mENANAM pOHON dI rUMAH sAYA

__ reduce, reuse n recycle

hASIL :

0-5 = bLACK, nOT gREEN

6-10 = gREEN iN tHE mAKING

11-15 = i hEART gREEN

16-20 = gREENER tHAN gREEN





Pemanasan Global, Tragedi dunia Modern

9 10 2007

<!–

–>Pada tanggal 5 Juni 2007, negara-negara seluruh dunia umumnya memperingatnya sebagai Hari Lingkungan Hidup. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multipihak. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.

Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya.

Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur
bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi.

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Jatim terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan Mei 2007 kemarin. Mulai dari Pantai Kenjeran, Pantai Popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau di Indonesia.

Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 meter pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal.

Lantas dengan situasi sedemikian rupa apa yang dibutuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? Yang dibutuhkan adalah REVOLUSI GAYA HIDUP, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan.

Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim. Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi Protokol Kyoto yang menekankan kewajiban pada negara-negara Utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara Selatan.

Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja.

Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.

Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan?

Ini semua adalah cerminan bagi mereka yang berusaha dan sadar sepenuh hati demi keberlanjutan kehidupan sosial (sustainable society) yang berkeadilan secara sosial, budaya, ekologis dan ekonomi. Inilah tindakan nyata untuk meraih kedaulatan energi dan melepaskan ketergantungan terhadap energi fosil yang sekarang telah dikuasai oleh korporasi modal. Sekarang siapapun bisa memilih, mau jadi kontributor pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim dan suhu yang makin panas? Atau mau menjadi bagian dari pelaku ”penyejukan global” dengan mengubah pola konsumsi dan gaya hidup dari sekarang juga? Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama.(dikutip dari stapala.com)

Kontak:
Ridho Saiful Ashadi, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jatim (08155093589/ 03171116367)
Yuliani, Kadiv. Informasi, Kampanye Dan Database Eksekutif Daerah Walhi Jatim (085648027407)

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Ridho Saiful Ashadi
Direktur Eksekutif WALHI Jawa Timur
Email Ridho Saiful Ashadi
Telepon kantor: +62-031-501 4092
Mobile:
Fax: +62-031-505 4313





Ayo Lestarikan Badak Jawa!!!!

9 10 2007

RhinoCare, program konservasi Badak Jawa (Rhinoceros sundaicus) WWF-Indonesia diperkenalkan kepada publik untuk pertama kali (soft launch) pada acara buka puasa bersama, Kamis 20 September di Jakarta. Program RhinoCare mengajak masyarakat, baik individu dan kelompok untuk terlibat aktif dalam konservasi Badak Jawa, dengan mengadopsinya secara simbolis.

“Sudah empat puluh tahun WWF bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon. Program RhinoCare merupakan salah satu strategi untuk terus meningkatkan upaya konservasi di Ujung Kulon melalui pendanaan yang berkelanjutan atau sustainable financing,” papar Adhi Rachmat Hariyadi, Site Manager WWF-Indonesia proyek Ujung Kulon.

Program RhinoCare, yang bertujuan mendekatkan masyarakat lagsung dengan upaya konservasi badak jawa di ujung kulon ini memperkenalkan tujuh badak untuk diadopsi yaitu: Dablo, Euis, Jampang, Lulu dan Rara, Menul, dan Macho. Tiap orang atau kelompok akan mendapatkan sertifikat dan paket adopsi sebagai tanda keikutsertaan mereka untuk melestarikan badak jawa.

Ketujuh badak tersebut memiliki sifat yang bersahabat dan ramah. Karakter unik dan lucu ketujuh badak ini dapat juga ditemukan dalam berbagai produk, seperti kaos, stiker dan boneka. Membeli produk-produk RhinoCare merupakan salah satu cara untuk mendukung pelestariannya

Dukungan Masyarakat
Dana yang dihimpun dari Program RhinoCare akan digunakan untuk menjalankan kegiatan patroli dan pemantauan Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.”Adopsinya hanya bersifat simbolis, bukan berarti badaknya dipindahkan dari Taman Nasional,” kata Hariyadi.

Keterlibatan langsung masyarakat, baik orang per orang mau pun kelompok dalam upaya penyelamatan Bada Jawa, difasilitasi dalam tawaran berbagai paket adopsi yang terdiri dari paket adopsi basic, advanced, family, silver, gold dan platinum.

“Jadi misalnya ada kelompok anak sekolah A ingin mengambil paket adopsi manapun, mereka bisa saja mengumpulkan uangnya bersama-sama. Pada dasarnya pakat-paket ini dapat dipilih oleh siapa saja,” tambahnya.

Selain paket adopsi, Program RhinoCare juga merancang paket Name-A-Rhino. Dengan paket ini masyarakat berkesempatan untuk memberi nama badak hasil jepretan kamera, baik itu badak anak atau dewasa. Program direncanakan akan mulai bergulir tahun 2008. Sementara untuk paket wisata, mengamati badak secara langsung di habitatnya sedang dalam proses uji coba.

Si Pemalu yang terancam
Masalah yang dihadapi Badak Jawa saat ini adalah populasi yang stagnan, meski pun kegiatan perburuan sudah berhentu. Ditambah lagi ancaman dari ekosistem sekitar, seperti ketersediaan pakan yang menipis dan kompetisi ruang dengan dengan banteng.

“Perubahan iklim baik lokal, seperti yang terjadi saat letusan Gunung Tambora pada 1815, dan Krakatau, pada 1883 serta perubahan iklim global juga merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup Badak Jawa,” jelas Hariyadi.

Maka, program RhinoCare diluncurkan oleh WWF-Indonesia, sebagai program konservasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Semoga saja Lulu dan Rara, Euis, Jampang, Macho, Menul, dan Dablo banyak mendapatkan “keluarga” yang bersama-sama menjaga keberlangsungan hidup mereka.(dikutip dari wwf.or.id





memakai obat tetes hidung saat puasa

9 10 2007

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Pengasuh yang terhormat. Hidung saya selalu bumpet dan bersin2, bila terkena udara dingin. Untuk itu saya memakai obat tetes hidung, kadang2 memakai Vicks Inhaler juga. Apakah hal itu membatalkan puasa?
Mengingat saya saat ini tinggal di negara yang sedang mengalami winter dan sebentar lagi Ramadhan tiba, saya mohon jawabannya. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jawaban:

Assalamu alaikum wr.wb.
Terkait dengan kasus Anda, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa memakai obat hirup atau yang sejenisnya bisa membatalkan puasa apabila obat tersebut sampai masuk ke otak. Adapun jika hanya sampai batang hidung, maka tidak membatalkan puasa.
Namun, ulama kontemporer, Yusuf al-Qardhawi berpendapat bahwa memakai obat hirup atau bahkan bersuntik sekalipun tidak membatalkan puasa. Alasannya, karena puasa seperti yang dikatakan oleh Rasulullah adalah menahan makan, minum, dan syahwat. Ini seperti yang ditegaskan dalam hadits qudsi, “Semua amal manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku. Akan Kuberi imbalan orang yang meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku.” (HR Bukhori)
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk memperluas makna puasa kepada hal yang lain. Selain itu, Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran (QS 2: 185)
Pandangan ini juga sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ibn Hazm yang berkata, “Yang dilarang Allah saat kita berpuasa adalah makan, minum, bersetubuh, muntah dengan sengaja, dan berbuat maksiat. Allah tidak mengajar kita makan dan minum lewat dubur atau saluran kencing, dari telinga, mata, hidung, kepala, dan perut. Jadi, memasukkan sesuatu ke dalam perut asalkan tidak melalui makan dan minum tidaklah terlarang.”
Kesimpulannya, pemakaian obat hidup dan sejenisnya tidak membatalkan puasa. Namun, sebaiknya ia hanya dipakai dalam kondisi yang memang sangat dibutuhkan dan penggunaannya tidak berlebihan.
Wallahu a’lam bish-shawab.(dikuti dari syariahonline.com)





Hello world!

9 10 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!